Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Bumi Batiwakkal

Sudah empat hari saya memulai ‘kehidupan baru’ di salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur. Tepatnya di Kota Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. Program pemahiran profesi yang saya ikuti menempatkan saya di kota ini.

Tinggal di luar Pulau Jawa bukanlah hal baru bagi saya. Bertahun-tahun sebelum ini, saya sudah merantau ke luar Jawa dalam rangka menjalani pendidikan. Tentu tidak mudah menyesuaikan diri dengan segala sesuatunya di kota orang.

Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman serombongan pergi ke tempat baru. Kami tentu saja tidak berasal dari daerah yang sama. Banyak dari kami yang bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Borneo, Kalimantan.

Saat pesawat mendarat di Bandara Kalimarau, kami disuguhi pemandangan hutan hijau di sekeliling bandara. Meski tak semegah Bandara Sepinggan Balikpapan, Bandara Kalimarau tetap mencuri hati saya. Setibanya di terminal kedatangan, kami dimanjakan dengan pertunjukan musik akustik.” Tidak buruk juga menunggu bagasi turun sambil mendengarkan lagu demi lagu yang mereka bawakan”, pikir saya.

Usai mendapatkan semua barang, kami pun berangkat ke tempat yang akan kami tinggali untuk sementara waktu. Sepanjang perjalanan ke sana, saya melewati jalan yang lumayan halus dan lebar, dengan tebing berbatu di kanan dan kiri jalan. Memasuki area kota, banyak saya dapati warung, kios, dan toko di pinggir jalan. Di ibu kota Kabupaten Berau ini, sinar mentari bersinar dengan kuatnya. Penduduknya tidak terlalu banyak sehingga jalanan tak begitu padat.

Esoknya, saya mencoba berkeliling. Tak butuh waktu lama untuk mengelilingi kota. Jalanan yang lebar dan halus cukup memuaskan hati. Jalur jalanan yang sederhana dan tata kota yang rapi membuat saya tak perlu repot-repot membuka Google Maps. Ditambah lagi dengan area kota yang tidak terlalu besar, berjalan-jalan di kota ini membuat saya lupa sejenak tentang rutinitas.

Sepanjang tadi berputar-putar, tidak saya temukan pengemis, pemulung, maupun anak jalanan. Indo**ret dan Alfa**rt pun nihil. Namun tentu saja, ada toko dan swalayan lain.

Dilihat dari kepadatan dan cuacanya, Kota Tanjung Redeb mengingatkan saya pada Tarakan, sebuah kota di Kalimantan Utara. Sama-sama lengang, tidak begitu padat. Eksposur mataharinya pun mirip. Siang sedikit, terik menyambut. Harga-harga pun serupa.

Di sini, terdapat banyak warung yang menjajakan makanan laut. Tentu dengan harga yang rata-rata lebih tinggi daripada kota-kota lain di Provinsi Kalimantan Timur. Mulai dari ikan, kerang, kepiting, dan udang. Semua itu diolah dengan berbagai macam bumbu dan pilihan.

Sore berikutnya saya diajak berkeliling teman saya yang memang tinggal di kota ini. Kami melewati Tepian Teratai, kawasan wisata kuliner dengan pemandangan sungai. Semburat keemasan turun di langit saat senja, membuat kawasan itu menjadi favorit penduduk sekitar.

Selain itu, kami juga melewati Taman Sanggam, fasilitas publik yang sering dijadikan tempat berkumpul warga. Taman ini lumayan luas dan strategis. Letaknya berada tepat di samping Sungai Kelay. Usut punya usut, ternyata Kota Tanjung Redeb juga punya nama lain, yakni Kota Sanggam. Sanggam sendiri sebenarnya merupakan motto kota ini yang merupakan akronim dari sehat, anggun, gairah, aman, dan manusiawi. Sementara itu, Berau sebagai kabupaten juga sering disebut sebagai Bumi Batiwakkal. Menurut bahasa setempat, Batiwakkal memiliki arti usaha manusia untuk melakukan kewajiban sesuai jalan yang direstui Tuhan.

Kata ini adalah sebuah filosofi yang menjadi pengingat untuk semua warganya, menjadi pondasi untuk tiap denyut roda kehidupan di tempat ini, serta membentuk norma dan aturan yang memagari perilaku sehari-hari.

Setelah enam tahun hidup di kota lain yang tata kotanya tidak begitu rapi, hidup di sini mendamaikan perasaan saya. Segalanya berjalan teratur. Tidak ada kemacetan. Tak ada banjir. Jalanan halus tanpa lubang. Selokan kering dan bersih. Tidak ada air menggenang di tepi-tepi jalan. Tata kotanya rapi.

Berau, khususnya Tanjung Redeb tidak hanya menjadi gerbang menuju Derawan. Bukan cuma perhentian bagi wisatawan menuju Sangalaki, Maratua, dan Kakaban, pulau-pulau indah di bagian timur Provinsi Kalimantan Timur. Tempat ini membuat pikiran saya tertata kembali. Sebuah kota kecil dengan suasana tak begitu ramai. Tidak ada gemerlap kota yang berlebihan. Tiada polusi dan hingar-bingar metropolitan.

Sesungguhnya, Bumi Batiwakkal memiliki keteduhannya sendiri.

Default image
Maria Monasias

Jangan Ketinggalan Berita

Masukan email Anda untuk subscribe ke buletin kami.