Memaknai Kejujuran Mulai dari Diri Sendiri

Jujur itu susah.

Karena di saat orang lain nyontek, kamu cuma bisa harap-harap cemas mantengin jawaban kamu.

Jujur itu nggak gampang.

Karena di saat orang lain buka buku catatan ataupun ponsel pas tutorial, kamu cuma bisa ngomong seadanya based on memori kamu doang.

Jujur itu mahal harganya.

Karena di saat orang lain cari alasan nutupin kesalahannya, kamu justru ngakuin semua kesalahan kamu.

Jujur itu bikin capek.

Karena di saat orang lain bisa titip absen, kamu kudu dateng kuliah (beneran) kalau nggak mau absen dicoret.

Jujur itu kadang nyesek.

Karena di saat orang lain copas sepuluh detik buat laporan, kamu justru kudu ke perpus, browsing literatur terpercaya, ngetik dua jam, itu pun masih ada yang kurang-kurang.

Jujur sama diri sendiri itu nggak keren.

Karena di saat orang lain ngajakin kamu jalan, kamu justru nge-time di perpus ditemenin buku-buku karena nggak mudeng-mudeng.

Jujur sama diri sendiri itu kadang keliatan bodoh.

Karena di saat orang lain bisa miripin tanda tangan, kamu milih ngejar-ngejar tanda tangan dosen.

Jujur sama Tuhan itu …

Nah. Apa bedanya jujur-jejujur di atas sama jujur dengan Tuhan? Manusia emang sok bisa banget ya nggak jujurnya. Pinter banget. Kita kira Tuhan nggak lihat, nggak ngerti. Padahal Tuhan nggak pernah melepaskan manusia. Tuhan selalu ada di samping kita. So, kenapa sih kita mesti bohong? Ini bisa jadi refleksi juga.

“Takut nilai jelek.”
“Takut nggak boleh ikut ujian.”
“Takut capek gegara harus ngetik.” WHAT?!
“Takut nggak punya temen.”

Takut dan takut. Manusia rupanya lemah banget sama ketakutan ya. Tapi apa iya, kita mau jadiin takut sebagai alasan kita menjauhi Tuhan? Lho kok menjauhi Tuhan? Iya dong. Di Amsal 6 ayat 16-19 tertulis enam perkara yang dibenci Tuhan:

haughty eyes, a lying tongue, and hands that shed innocent blood, a heart that devises wicked plans, feet that make haste to run to evil, a false witness who breathes out lies, and one who sows discord among brothers.

Amsal 12 ayat 22 juga bilang begini:

Lying lips are an abomination to the Lord, but those who act faithfully are his delight.

Nggak usah buka kamus deh, artinya gini lho: Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya.

“Lho kan dari tadi yang dibahas lying lips. Bibir yang berbohong. Nah, aku kan bohongnya nggak pake bibir?”
“Trus pake apa?”
“Pake otak sama mata –nyontek. So enggak buruk-buruk banget dong. Ya kan? Ya kan?”
“Inget guys, Mazmur Daud 44 ayat 22 bilang ‘Would not God discover this? For he knows the secrets of the heart’. Tuhan tahu. Tuhan tahu bibit ketidakjujuran itu bukan di otak atau matamu. Tuhan tahu semua yang tidak Ia sukai berasal dari hatimu. Tidakkah justru keterlaluan?”

Kita mahasiswa pasti pernah ngalamin yang namanya di-PHP-in dosen. Dibilang ada kuliah jam segini di ruang ini. Eh ternyata dosennya nggak dateng. Atau pernah nggak, mergokin temen atau pacar yang bohongin kita demi nemenin orang lain? Gimana rasanya? Kesel? Marah?
So, let us imagine. Gimana kalau kita yang membohongi Tuhan?

Belajar jujur itu susah, we knew. Tapi apa mau nggak jujur terus sampai tua? Atau lebih milih belajar dan berproses di dalam Tuhan? Anak SD aja belajar PPKn sama Agama. Pas udah dewasa gini, it doesn’t matter about theory anymore. Just realize your theory. Oya, severity ketidakjujuran itu bisa upgraded lho. Kalau kita nggak jujur pas mahasiswa, di dunia kerja kita bisa nggak jujur juga. Cuma beda tempat sama media penyalurannya aja. Bisa soal duit, waktu, tender, pasien, dan kekuasaan. Semua bisa merembes kayak prinsip kapilaritas air kalau kita nggak sadar mulai dari sekarang.

Sadar dulu. Melek dulu. Terus mikir, selama ini aku seringnya nggak jujur tentang apa sih? And then, kneel down to Him.
Menutup tulisan ini, saya sengaja mengutip kalimat indah dari sastrawan besar Indonesia, eyang Arswendo Atmowiloto.

“Semangat kejujuran ada dalam hati, dalam batin, dalam sukma yang mengatasi ikatan-ikatan yang membatasi diri kita.”

Arswendo Atmowiloto

Selamat memaknai kejujuran!

Default image
Maria Monasias

Jangan Ketinggalan Berita

Masukan email Anda untuk subscribe ke buletin kami.

Leave a Reply