Cinta Kamu dan Gereja

Hujan rintik-rintik kembali mengguyur Yogyakarta siang ini. Aku hanya merapal doa dalam hati agar segera reda. Aku tak ingin hari mingguku ternoda. Hari minggu memang hari yang paling kutunggu. Bukan karena sekolahku libur, namun karena aku akan bertemu dengan seseorang.

“Yess!” seruku girang ketika tahu hujan berhenti tepat satu jam sebelum misa sore di Gereja Santa Marria Assumpta Gamping dimulai. Aku bergegas mengguyur badanku dan membuat aromanya menjadi semerbak wangi. Berdiri di depan cermin, di tanganku sudah tergenggam sebuah kotak peralatan make-up.

Benar, rasa suka pada seseorang memang buta hingga aku melakukan segalanya untuk mendapatkan perhatian matanya. Perlahan kukeluarkan satu persatu peralatan make up itu. Sebuah benda pipih lembut kuusapkan pelan diwajahku dengan merata. Berikutnya menyusul sebuah pensil berwarna coklat gelap yang terukir di alisku. Diakhiri oleh cairan berwarna merah yang teroles di bibirku.

“Sempurna,” ujarku berdiri di depan cermin sembari memandangi wajah yang kini telah tertutup oleh benda-benda kimiawi. Aku menghela nafas. Ini bukan pertama kalinya aku berlaku seperti ini. Lebih tepatnya semenjak aku mulai bertemu dengannya dan perasaan ini menyusup hatiku.

Aku tertegun sesaat setelah jam menunjukkan lima belas menit waktu yang tersisa sebelum misa dimulai. Roda motorku beradu cepat dengan jalanan yang masih basah. Hatiku berdebar kencang. “Woy, kamu mau ke gereja, bukan ketemu pacar!” seru hatiku beradu dengan pikiranku yang sibuk membayangkannya.

Melangkah memasuki pintu utama gereja, mataku menjelajah mencari keberadaanya. Jangan bayangkan aku akan duduk disampingnya! Tentu saja kuberi jarak satu atau dua bangku untuk aku duduk agar tetap bisa memperhatikannya. Aku memang hanya bisa menatapnya dari jauh.

Dia, pemuda yang menurutku sangat tampan. Hampir setiap hari wajahnya berhasil masuk menjadi bunga tidurku. Rahangnya tegas, alisnya yang tebal, matanya yang bercahaya, dan jambulnya sungguh mempesona. “Teng,” bunyi lonceng tanda misa dimulai berhasil membuatku terlonjak. Ah tidak! Membayangkannya saja membuatku lupa bahwa aku sedang di gereja.

Homili yang seharusnya kudengarkan, nyatanya malah sibuk kugunakan untuk mengaguminya. Aku membayangkan bagaimana jika aku mengikuti misa dengan duduk berdua dengannya. Ah, paling nanti aku pingsan karena tak sanggup menahan pesonanya yang begitu kuat untukku. Tapi boleh lah, sedikit sentuhan lembut di tangan ketika tak sengaja bersentuhan. Pikiran tentangnya terus menghantuiku hingga akhirnya homili yang hanya menjadi angin lalu pun usai.

Misa berakhir, dia menghampiri teman-temannya. Mungkin untuk sekedar bersama ataupun basa basi belaka. Sedangkan aku, berjalan lambat menuju taman doa. Aku tak tahu mengapa aku bisa begitu menyukainya, bahkan hingga aku mencintainya. Hampir di setiap doaku, nama itu terucap hanya untuk permohonan agar aku bisa memilikinya.

Waktu berjalan cepat. Rutinas yang kulakukan setiap hari minggu tak membuatku dekat dengannya sedikitpun. Mencari jadwalnya ke gereja, mengikuti kegiatan-kegiatannya, atau hingga meluangkan sedikit waktu hanya untuk melihat senyumnya bersama teman-teman dekatnya. Seakan percuma, dia tak melihat ke arahku. Bahkan aku tak yakin bahwa di mengenaliku ataupun sekedar tahu namaku.

Jengah, lelah, bosan, dan segala hal lainnya mulai berkecamuk. Terkadang aku berpikir, apakah aku hanya sekedar menggaguminya. Namun, mengapa untuk melepaskannya harus sesulit ini? Apakah mengejarnya memang terlalu menyakitkan untuk dilakukan? Bertepuk sebelah tangan memang melelahkan, dan sekarang aku benar-benar lelah untuk selalu menjadi penggagumnya saja tanpa bisa menyentuhnya lebih dekat.

Kabar burung pun sampai hingga telingaku. Ah sudah! aku ingin melupakannya. Toh ternyata dia milik orang lain. Buat apa aku menarik perhatiannya lagi seperti yang selama ini telah kulakukan. Mengapa aku memaksakan apa yang memang tak bisa aku dapatkan. Paling tidak aku bersyukur masih diberi kesempatan menatap ciptaan-Nya yang indah meski dari kejauhan.

Teruntuk kamu, pada akhirnya aku cuma ngikutin waktu, ngikutin suara hatiku, ngikutin setiap gerak-gerikmu, karena aku cinta kamu dan gereja.

Default image
Komsos Indonesia

Jangan Ketinggalan Berita

Masukan email Anda untuk subscribe ke buletin kami.